PROLOG
Sore itu, ketika jarum jam membentuk sudut 120 derajat, di The Regent's Park, duduk seorang wanita di bangku taman yang lembab di tengah cuaca musim gugur yang membuatnya sesekali memasukkan tangannya ke dalam kantong jaket mencari kehangatan. Sesekali dia memainkan napasnya, menghembuskannya ke udara untuk melihat asap yang keluar dari mulutnya.
Wanita itu memakai coat (jaket) berwarna burgundy yang menjuntai hampir sampai lutut. Wajahnya, meskipun di udara dingin, tampak teduh dibingkai dengan jilbab berwarna senada bercorak halus dan dengan riasan yang cukup — tidak membuatnya pucat seperti orang sakit ataupun berlebihan.
Di bulan November ini, matahari tampak seperti kehilangan kekuatan untuk memancarkan keramahannya. Kala menengok ke sisi barat, gradasi langit dengan guratan tipis berwarna jingga pudar kemerahan marun tampak sangat indah. The Regent's Park seperti diselimuti cahaya emas, tampak mewah, elegan, dan indah pastinya. Siapapun yang datang mengunjungi The Regent's Park sore itu akan takjub dan tak bisa menahan kepalanya untuk sesekali menoleh ke arah indahnya gradasi langit.
Wanita itu masih duduk terdiam, memandangi pengunjung yang menikmati suasana taman pada sore hari itu. Sesekali ia menatap langit, menyebutkan keagungan Asma' Allah atas indahnya pemandangan yang terpantul di lensa matanya. Sesekali ia juga memejamkan matanya, menikmati gema-gema aliran suara yang dialirkan ke gendang telinganya: suara sekumpulan anak-anak yang berteriak riang berlari, tawa beberapa orang dewasa yang baru saja menyelesaikan lari sorenya atau sekadar duduk berbincang bersama kenalannya. Dan dari kejauhan, terdengar suara deru lalu lintas Kota London yang cukup ramai. Ini adalah peak hour di mana orang-orang sedang berlalu lalang bergegas pulang setelah seharian mengerahkan tenaganya untuk bekerja.
Wanita itu masih terduduk diam, dalam hatinya ramai berzikir asma'-asma' Allah, memanjatkan syukur yang tak terhingga atas kesempatan menikmati indahnya suasana taman di belahan bumi lain, beribu-ribu kilometer dari tempat asalnya.
Pukul dua siang tadi, acara kajian yang dibawakan oleh ustadz favoritnya baru saja selesai. Ya, hari ini ada jadwal Islamic lecture oleh Ust. Nouman Ali Khan di London Central Mosque. Jadwal yang sudah ditandai di kalendernya tiga bulan sebelumnya, menolak semua ajakan penghiburan lain pada tanggal tersebut, dan mengaktifkan notifikasi pengingat agar kegiatan yang ditunggunya tak terlewatkan.
Tak lama setelah acara ditutup, azan Asar berkumandang. Segera wanita itu ikut berjamaah salat Asar di masjid dengan pengunjung lainnya. Setelah menunaikan salat, dia memang sudah merencanakan untuk mampir ke The Regent's Park sore itu —bagian dari rencananya tiga bulan lalu— dengan alasan ingin sekadar duduk dan menikmati indahnya ciptaan Rabb-Nya di tempat favoritnya untuk termangu, yaitu taman.
Sudah hampir 30 menit dia duduk di bangku taman. Kian lama wajahnya menunjukkan ekspresi gusar seperti sedang menunggu sesuatu. Dan memang betul, sebenarnya dia sedang menunggu seseorang untuk ikut bergabung menemaninya, seseorang yang juga menemaninya mengikuti kajian hari ini. Namun, sudah 30 menit sejak mereka janjian untuk duduk bersama di taman, batang hidungnya tak juga muncul.
Wanita itu, sambil sesekali memutarkan kepala ke segala arah, mencoba mendeteksi hadirnya orang tersebut. Sambil melihat jam analog vintage kesayangannya, wanita itu bergumam:
"Sudah hampir 30 menit, kok belum datang, ya? Apa beli kopinya mengantri?"
Gumamnya mengkhawatirkan orang yang ditunggunya.
Dalam pikirannya, dia sudah merencanakan jika sampai 30 menit orang tersebut tak kunjung muncul, maka dia ingin berinisiatif menyusul ke tempat orang tersebut.
Tak sampai 5 menit dia bergumam, dari arah barat terdengar suara daun yang berserakan di jalan-jalan taman saling bergesekan seperti ada orang yang berjalan cepat di atasnya. Dan dari kejauhan, prasangka wanita itu benar: seseorang sedang berlari kecil sambil memegang dua gelas minuman di kedua tangannya. Salah satunya jelas pesanannya. Orang itu kian mendekat ke arahnya dan segera menghampiri duduk di sampingnya.
Orang yang ditunggunya dan menghampirinya tersebut adalah seorang laki-laki, dengan perawakan tubuh yang gagah dan tegap. Laki-laki tersebut mengenakan coat yang serupa dengan sang wanita, namun dengan warna berbeda — warna cokelat tua. Cuaca musim gugur yang cukup dingin membuat telinga laki-laki tersebut yang duduk di sampingnya ini kemerahan. Mungkin karena guncangan berlari kecil tadi, membuat syal berwarna cokelat muda yang melingkar di lehernya menjadi longgar.
Wanita itu segera berinisiatif memperbaiki letak syal berwarna cokelat muda tersebut. Dan setelahnya, mencoba menghangatkan telinga laki-laki itu dengan cara menutupnya dengan tangannya yang sudah digosok-gosok agar menimbulkan rasa hangat.
"Tadi, mas, sewaktu mengantri memesan kopi, ternyata di depan mas ada Teguh. Kamu ingat, kan, Teguh teman mas yang waktu itu kita ketemu? Ternyata dia lagi di London karena mau ada konferensi, jadilah mas mengobrol sekitar 10 menit setelah kopinya jadi," menceritakan apa yang baru saja dialaminya dan juga alasan kenapa dia baru sampai menyusul si wanita setelah hampir 30 menit.
Dengan ekspresi sedikit menyesal, orang tersebut melanjutkan, "Maaf, ya, dek... mungkin kopinya sudah tidak sepanas tadi." Bibirnya ditarik ke bawah di akhir kalimatnya, menguatkan betapa menyesalnya karena membuat si wanita menunggu lama.
"Ini... pesanan adek, hot coffee latte less sugar. Betul, kan?!" menyodorkan salah satu gelas yang dibawanya di tangan kanan.
Wanita itu mengambil gelas yang disodorkan sambil menatap mata orang tersebut dan menghujaninya dengan beberapa pertanyaan berderet: "Oalah... jadi tadi Mas qadarullah berpapasan sama Bang Teguh? Sama siapa dia, Mas? Sendiri?"
Dia tidak masalah orang di sampingnya telat, hanya khawatir takut terjadi sesuatu.
"Iya, gapapa, Mas, ini kopinya masih cukup hangat, kok, oke, lah," jawabnya agak jail sambil menyeruput kopi pesanannya.
"Ahhh, nikmatnya musim gugur dengan pemandangan indah, dan... kopi hangat!" ucapnya setelah menyeruput kopinya untuk yang kedua kali.
.......
Mereka adalah pasangan suami istri yang baru menikah sekitar setahun terakhir. Wanita itu bernama Raihana Talia atau akrab dipanggil Hana, dan suami yang membersamainya bernama Khalid Abdul Hakim, akrab dipanggil Hakim. Namun, istrinya senang memanggilnya Mas Khalid.
........
"Mau sampai jam berapa duduk di sini, dek?" "Semakin gelap, suhunya semakin dingin, soalnya," tanya Khalid kepada istrinya.
"Sebentar lagi sepertinya azan Magrib, ya, Mas?" lagi-lagi sambil melihat jam tangan analog vintage-nya. "Sepertinya sekarang saja, yuk, Mas, kita balik ke Central Mosque untuk salat Magrib," ajak sang istri.
"Mas jadi capek, ya, bolak-balik?" tanya Hana mengasihani suaminya yang baru tiba di taman.
"Kalau terjadi kejadian serupa, Mas kabari Hana saja, ya, kirim pesan ke Hana, jadi baiknya Mas tetap di sana saja menunggu Hana sambil mengobrol sama Bang Teguh atau kenalan Mas," lanjutnya menginisiasi solusi untuk skenario serupa di hari mendatang jika terjadi kembali.
"Siap, dek..." jawabnya sambil mengusap kepala istrinya. "Hari ini enggak apa-apa, kok, bolak-balik. Hitung-hitung nambah NEAT (Non-Exercise Activity Thermogenesis)-nya Mas, betul, kan?" jawab sang suami menanggapi penyesalan sang istri.
Mereka berdua lantas beranjak dari tempat duduk yang lembab itu, dan berjalan ke arah barat, kembali menuju London Central Mosque. Mereka jalan beriringan, sesekali Khalid merangkul pundak istrinya saat berjalan.
Pasangan muda yang sungguh serasi.
Yang melihatnya lantas akan bergumam iri dalam hati, "Serasinya, beruntung sekali mereka berpasangan suami istri". Tanpa mereka mengetahui skenario apa saja yang telah dilalui sang wanita sampai hari ini, ketika nampaknya dia tengah menenggak manisnya kehidupan.
Bukankah Allah berfirman, bahwa siapapun yang beriman kepada-Nya, maka tak luput dari ujian? Bukan karena tak sayang, mana mungkin Allah, Dzat yang Maha Agung dan Bijaksana, zalim kepada hamba-Nya? Namun, justru karena cinta pada hamba-Nya dia memberikan ujian agar hamba-Nya bisa menikmati rasa manis kehidupan secara mendalam. Bukankah rasa manis akan terasa lebih nikmat ketika kita pernah merasakan kepahitan?

Comments
Post a Comment