Menata dan Memulai Kembali Hal yang sempat terhenti
Hari ini adikku yang paling besar kembali ke Bandung untuk menyelesaikan studinya. Tinggal kami bertiga di rumah. Hari ini juga aku baru sempat unpack sebagian barang-barang yang kubawa pulang dari Pare. Kebanyakan barang tersebut adalah buku. Buku-buku modul yang aku dapat dari kursusku di Pare dan beberapa print out untuk belajar IELTS secara mandiri. Aku menemukan juga beberapa lembar kertas yang sebagian diantaranya adalah tulisan-tulisanku ketika berlatih menulis writing task IELTS. Ku lihat kertas-kertas tersebut dan kubaca ulang. Aku termenung dan bersyukur. Dahulu, tulisan-tulisan tersebut hanyalah angan dan mimpi, tidak pernah menyangka dalam waktu dekat bisa menulis seperti itu. Namun kegalauan juga menyelimuti. Haruskah aku lanjutkan mimpi ini? Meninggalkan orang rumah? Ikhtiarku untuk melanjutkan studi ke LN bisa dikatakan pasang dan surut. Dahulu sempat surut memikirkan hal tersebut yang sulit untuk diraih karena aku yang seorang perempuan di usia matang yang mana ketika menikah kelak "umumnya" harus mengikuti suami, sempat surut juga melihat kondisi ummi yang sakit kronis dan mobilisasi terhadap kehidupan sehari-harinya kian berkurang sehingga keraguan itu muncul, dan akhir-akhir ini juga surut memikirkan akan meninggalkan adik-adik di rumah terkhusus adik yang paling kecil.
Hari ini juga aku merapikan kamarku yang belum sempat kurapihkan. Ketika memindahkan meja dan melihat kasur, seketika aku teringat Ummi yang pernah bilang "Mbak, nanti kalau Ummi punya uang, Ummi mau beliin kasur buat kamu." Seketika aku menangis mengingat itu. Memang saat ini rasanya bagiku hanya seperti ditinggal Ummi dirawat di RS seperti biasanya, namun jika mengingat seperti itu jadi tersadar bahwa Ummi tidak akan pernah lagi pulang ke rumah. Sambil merapihkan kamar, sambil aku berpikir harus memulai lagi dari mana. Apakah rencana tahun ini tetap aku ikhtiarkan atau aku tunda.
Tulisan ini telah mengendap selama 2 tahun lamanya, ditulis 11 April 2022. Seminggu setelah kepergian Umi.

Comments
Post a Comment