MANIS TAK AKAN TERASA BEGITU NIKMAT, TANPA PERNAH MERASAKAN KEPAHITAN
Ini kisah tentang seorang muslimah. Yang beberapa waktu belakangan ini, hatinya berisik menggemakan dzikir syukur pada Rabb-Nya. Sebuah kabar bahagia menghampirinya, Rabb-nya mengizinkan dan menakdirkan muslimah tersebut menapaki anak tangga baru menuju mimpinya.
Bagi muslimah tersebut, kabar tersebut lebih manis dari jenis madu apapun di dunia ini. Dia tak sampai bisa menggambarkan betapa bahagia dan syukurnya atas apa yang telah ditetapkan tuhannya. Bagaimana bisa Muslimah tersebut gembira sedemikian rupa?
Empat tahun terakhir, hidupnya banyak berurai air mata. Dia memiliki luka besar yang beberapa tahun terakhir ini dia ikhtiarkan untuk basuh luka tersebut, memolesinya dengan obat, berharap luka itu sembuh. Luka itu dari kekecewaan terbesar yg dihadapinya semasa hidupnya, bak pengkhianatan terbesar dalam hidupnya. Belum usai membasuh satu luka, dia harus mengalami duka atas kehilangan orang terkasih dalam hidupnya.
Tak akan ada yg lebih mengetahui apa yg dialami muslimah itu selain dirinya.
Tapi Rabb-Nya, tak pernah meninggalkannya. Lewat hafalan-hafalan yang dia ulang (dia murojaah), lewat guru-guru yang senantiasa menyirami ilmu kepadanya, lewat teman-temannya yang senantiasa memeluk hatinya memberi kehangatan.
Berkat itu semua, cahaya mimpinya tak pernah redup, tak pernah dia menyerah atas apa yg telah ditulisnya pada selembar kertas bertuliskan "Rencana Hidup".
Lukanya memang belum sembuh sepenuhnya, tapi kian hari hatinya menjadi lebih tenang. Dia mulai memahami bahwa Rabb-nya sangat mencintai dirinya. Dia mulai memahami bahwa melalui ketidaknyamanan selama ini, Sang Khalik ingin mendidiknya agar menjadi muslimah yang tangguh dan tenang.
Oleh karenanya, apa yg ditetapkan Rabbnya hari ini, terasa amat manis baginya. Dan muslimah itu, tidak lagi merasa khawatir atas ketetapan dalam hidupnya. Karena dia percaya, Tuhannya Maha Bijaksana dan tak pernah salah dalam menetapkan.

Comments
Post a Comment