MEMBANGUN PERADABAN DARI MASJID: MENUJU KESEJAHTERAAN UMAT MELAUI SIFAT QANAAH



Tadi malam aku ikut salah satu event Masjid Jogokariyan yaitu "JoGrow". Kurang lebih ini poster kegiatannya semalam, meskipun qadarullah koneksi internetku bermasalah jadi tidak bisa ikut sampai akhir sesi.

Lalu pagi ini, setelah shalat subuh sambil mencuci baju, tiba-tiba aku tersadar akan apa yang dijalani pengurus Masjid Jogokariyan dan pesan yang disampaikan Mas Ghufron dari Ummah International tadi malam.

​Tadi malam Mas Ghufron bilang bahwa "Peradaban Islam itu sebenarnya dimulai dari masjid." Tadi pagi aku baru benar-benar merenung, eh iya ya, dahulu pun kalau tidak salah Rasulullah dan para sahabat menggunakan masjid sebagai fasilitas menuntut ilmu, tidak cuma ilmu agama, tapi juga ilmu lainnya. Bukankah universitas Islam ternama seperti Universitas Al-Azhar awal mula pembelajarannya juga dari masjid?

​Kesadaran itu tersambung dengan apa yang diaplikasikan oleh pengurus Masjid Jogokariyan. Aku baru benar-benar merasakan manfaat belajar di sana setelah tahun lalu selama dua bulan qadarullah ikut kajian rutin setiap hari Kamis. Tidak hanya itu, aku pernah melihat informasi bahwa Masjid Jogokariyan mengadakan tes TOEFL gratis, dan terakhir aku ikut event "JoGrow" semalam. Aku menyadari bahwa Masjid Jogokariyan tidak hanya menjadi fasilitas ibadah, tapi juga wadah pengembangan SDM.

​Harapanku, tidak hanya Masjid Jogokariyan saja, tapi masjid-masjid di seluruh Indonesia juga bisa menjadi tempat peradaban Islam dimulai, dibangun, dan dipertahankan.

Oh iya, kegiatan-kegiatannya ini yang aku ikuti gratis ya. Bahkan kajian setiap hari kamis sore itu dapat snack dan makan berat untuk buka puasa.

​Oke, mungkin akan ada yang bertanya-tanya soal dana. Yup, dananya dari mana? Apakah dari HTM? Dan sebagainya.

​Aku teringat materi dari Ust. Hammad Rosyadi, salah satu pengisi kajian rutin Kamis di Masjid Jogokariyan dalam program "Kajian Sebelum Pulang". Beliau menyampaikan bahwa ilmu itu tidak gratis; para guru dan asatidz tetap harus mendapatkan benefit atau bayaran atas ilmu yang diberikan. Ini yang sering salah kaprah. Orang-orang sering menganggap kalau mengisi di masjid itu ya harus ikhlas saja sebagai bagian dari dakwah, padahal sebenarnya tidak begitu. Terus bagaimana dong? Kalau masyarakat diminta bayar lalu mereka tidak sanggup dan tidak ada yang hadir, bagaimana?

​Nah, di sinilah indahnya agama kita. Teman-teman pasti memahami bahwa Allah itu Maha Adil. Allah mengaruniakan sebagian di antara kita rezeki yang berlebih, sementara sebagian lainnya mungkin hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Sebenarnya ada maksud di balik itu: bagi orang-orang yang dilimpahkan rezeki berlimpah, Allah ingin sebagian hartanya digunakan untuk jihad di jalan Allah, salah satunya melalui dakwah memberdayakan masjid. Jika para muslim-muslimah yang kaya raya menjadi donatur tetap pemberdayaan masjid, maka insya Allah kesejahteraan masyarakat akan tercapai.

​Tadi aku menyebut "sebagian harta". Berapa sih nominalnya? Jika bicara nominal, mungkin tidak ada angka pasti. Namun, sebagian harta itu adalah harta berlebih setelah kamu cukup memenuhi kebutuhan dirimu dan keluargamu. Maksudnya bagaimana?

​Coba tanya diri sendiri, apa sih kebutuhan kita? Sandang, pangan, papan, pendidikan, transportasi, dan lain-lain, kan? Di sinilah pentingnya memiliki sifat qanaah.

​Soal makanan, kita sebenarnya cuma butuh makanan bergizi seimbang, kan? Sebagai seorang nutrisionis, aku hitung satu orang dalam sehari paling mahal butuh 100 ribu rupiah untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi, itu sudah termasuk air putih dan kopi tanpa gula. Boleh saja makan mewah, tapi apa iya perlu setiap hari? Seminggu sekali pun mungkin masih terlalu berlebihan. Kita bisa bergilir makan di restoran mewah agar tidak di situ-situ saja.

​Soal pakaian, apakah kita butuh lebih dari 50 pasang? Mungkin alasannya, "Aku kan konten kreator," atau "Aku pembicara, butuh baju beda tiap event." Pertanyaannya, benarkah konsep Islam demikian? Bukankah sebagai bagian dari akhlak, kita hanya diminta berpakaian bersih, rapi, dan wangi? Tidak boleh bolong-bolong atau lusuh, lantas perlukah sampai 50 baju?

​Atau tentang aksesori, contohnya tas. Aku lihat ada influencer yang beli tas hampir 100 juta dan jumlahnya puluhan. Bilangnya investasi, tapi benarkah itu investasi? Jujur, hal ini jadi renungan terdalam untukku sebagai perempuan. Perempuan memang suka perhiasan yang indah, itulah kenapa perempuan lebih rentan impulsive buying. Padahal sebenarnya bajunya, tasnya sepatunya sudah banyak. Wahai perempuan, silakan direnungi ya. Perlahan kurangi belanja impulsif. Kalau mau beli, pikirkan berulang kali: butuhkah? Alasannya harus logis dan realistis, bukan dibuat-buat.

​Lalu soal tempat tinggal. Perlukah punya rumah bak istana yang banyak ruangannya tidak terpakai? Kamu boleh punya rumah besar atas dasar fungsional. Misal, kamu menghibahkan fungsi rumahmu untuk dakwah dengan membangun mini auditorium untuk seminar atau kajian. Atau kamu membangun gym agar tetangga-tetanggamu bisa bugar dan produktif beramal saleh.

​Transportasi juga sama. Perlukah beli Ferrari yang tidak bisa dipakai setiap hari dengan alasan takut lecet? Perlukah gonta-ganti mobil hanya karena alasan lebih canggih, padahal mobil sebelumnya masih berfungsi baik untuk mobilitas? Perlukah punya 5 mobil yang akhirnya hanya menganggur berdebu di garasi demi kepuasan pribadi atau validasi orang lain?

​Terakhir, alat komunikasi. Ini yang menurutku perlu kita sadari. iPhone mengeluarkan versi terbaru setiap tahun dan banyak orang FOMO ingin membelinya. Pertanyaannya, perlukah? Bukankah fungsi HP untuk memudahkan komunikasi dan produktivitas? Jika kita bekerja 8 jam, tidur 8 jam, dan sisanya untuk aktivitas lain, waktu penggunaan smartphone sebenarnya sedikit. Kalau kamu beli hanya karena FOMO lalu ujung-ujungnya cuma dipakai doomscrolling, untuk apa?

​Sekarang bayangkan jika orang-orang berharta berlimpah yang punya sepuluh mobil menjual tujuh di antaranya karena mereka hanya butuh tiga. Bayangkan seberapa banyak dana yang bisa dialirkan ke pengurus masjid untuk pemberdayaan masyarakat yang rezekinya pas-pasan. Bayangkan jika tas seharga puluhan juta itu dihibahkan satu saja, dananya sudah Masya Allah.

​"Ah, kamu mah iri saja kali, Zah, kamu nggak kaya mereka!" Oke, aku pernah merasa iri dengan kemewahan itu. Tapi akhirnya aku sadar, untuk apa semua itu jika tidak mendatangkan pahala? Untuk apa jika aku sebenarnya sudah cukup dengan sebagian kecilnya saja?

​Sebagai muslim, kita tetap harus punya cita-cita jadi orang kaya, kaya banget kalau bisa. Untuk apa? Untuk membantu kemaslahatan umat. Tugas kita adalah berikhtiar semaksimal mungkin. Jangan sampai ada pemikiran, "Ah, aku begini saja, biar orang lain saja yang kaya dan membantu umat." Pemikiran seperti itu tidak boleh. Kita baru boleh tawakal setelah ikhtiar maksimal.

​Jadi, berikhtiarlah maksimal. Sekolah setinggi mungkin, kerja sebaik mungkin, dan semoga kamu menjadi muslim yang bermanfaat untuk umat.

​Wallahu a'lam bish-shawabi, barakallahu fiikum!


Comments

Popular Posts