Hidup Menjadi Indah Ketika Berhusudzon Kepada Allah

Rasanya tidak dapat menahan diri ini utnuk berbagi cerita tentang apa yang terjadi dalam hidup ini selama kurang lebih setahun terakhir. 

Cerita ini dimula saat setahun yang lalu aku memutuskan untuk resign dari pekerjaan pertamaku. aku tidak bisa menceritakan secara rinci alasanku mengambil keputusan tersebut. Namun, keputusan itu bukanlah hal yang mudah karena negara ini sudah mengalami guncangan ekonomi, aku mengkhawatirkan, bagaimana jika aku jadi merepotkan abi, menambah lagi pengeluaran, sedangkan tanggungan abi juga sudah sangat banyak dan abi juga sudah mendekati pensiun. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang berisik di kepala seperti, "Apakah aku akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari ini?", "Apakah ini keputusan terbaik atau menjadi salah satu keputusan egois?"

Pada waktu itu, aku juga sedang mendaftar program profesi dietisien di salah satu kampus swasta di Jakarta. Kepalaku pun bersik sekali mempertanyakan, "Apakah aku pasti akan diterima di kampus itu?", "Kalau tidak keterima bagaimana?", "Apakah aku jadi pengangguran?", "Apakah akan ada instasi yang masih menerima lulusan sarjana gizi di RS/Klinik?" 

Sebagai manusia yang memiliki keterbatasan pengetahuan akan masa depan sangatlah risau dan khawatir akan masa depan. 

Dan...kalian tau apa yang terjadi? aku resign, dan aku gagal diterima program profesi dietisien di kampus tersebut. Akupun mencoba mencari pekerjaan dan...yap, klinik dan RS meminta kualifikasi minimal profesi dietisien. Ada sih lowongan pekerjaan, kerja di MBG, namun rasanya diri ini belum sangat siap bekerja disana, mendengar cerita-cerita yang kurang nyaman dari teman-teman sejawat. 

Jujur, saat itu aku sangat takut menjadi beban karena tidak bekerja ataupun tidak kuliah. Aku juga malu, berprasangka orang memandangku sebagai orang yang kurang bersyukur karena memilih resign sebelum mendapatkaan pekerjaan baru ataupun diterima di sekolah profesi/pascasarjana. 

Tapi aku ingat pesan mentor-mentorku bahwa tugas kita sebagai manusia adalah berikhtiar, soal hasil itu urusan Allah. 

Akhirnya, pada waktu itu, aku memutuskan untuk melanjutkan ikhtiar-ikhtiar yang bisa kulakukan. Mulai dari melanjutkan belajar persiapan daftar sekolah profesi entah dimana, dan mencari penghasilan tambahan meskipun tidak linear sesuai dengan bidang yang kukuasai, membuat projek sesuai bidan yang kukuasai sebagai ahli gizi untuk menambah portofolio, melanjutkan belajar IELTS dan hal lain yang kiranya bisa aku lakukan. 

Salah satu ikhtiar yang kulakukan dan yang sudah kusebutkan adalah mencari penghasilan tambahan. Waktu itu, sebuah unit apartemen milik orang tuaku sedang tidak ada yang menyewa dan aku mencoba menawarkan ke rekan-rekan atau temanku sebagai penyewa, baik harian/mingguan/bulanan dsb. Waktu itu, dengan mindset "Tugasku adalah ikhtiar", benteng gengsi dalam diriku runtuh, kepedulianku terhadap presepsi orang lainun berkurang. Aku tidak peduli, karena ini bagian dari ikhtiarku. Kau tau apa yang kulakukan? aku memastikan unit tersbut bersih sebelum dan setelah digunakan, yak aku sebagai penyewa sekaligus cleaning service unit tersebut, memastikan unit tersebut bersih dan nyaman digunakan oleh penyewa. Capek? capek banget, apalagi jaraknya dari rumahku cukup jauh, sekitar 40 menit dan tau kan bekasi itu panas sekali. 

Saat itu, aku menaruh prasangka baik padaNya atas ikhtiar yang kulakukan. Dan alhamdulillah, per hari ini, sejak awal tahun 2026, unit tersebut terhuni oleh kenalanku dulu dan aku percaya bahwa itu adalah pertolonganNya atas ikhtiarku waktu itu. 

Oh ya, sewaktu sedang semangat-semangatnya mencoba bisnis di bidang hospitality, Allah memiliki skenario lain. Pada bulan agustus 2025, Mbah Uti-ku yang tinggal di Jogja yang berusia 81 tahun jatuh di rumah. Waktu itu aku menawarkan diri ke abi untuk membantu menemani dan mengurus mbah di jogja karena bude, bulik memiliki tanggung jawab bekerja, sehingga kalau siang hari tidak bisa menemani mbah. Dan skenario inilah yang merupakan awalh dari segalanya. 

Sambil mengurus mbah, aku juga tetap melanjutkan ikhtiar belajarku. Ketika mengetahui terdapat perputakaan daerah, akupun memutuskan rutin belajar di sana. Aku mendaftar lagi sekolah profesi dietisien di Instansi kesehatan di Jogja. 

Selain itu, aku lupa persis bagaimana mulanya, tapi Allah membimbingku untuk datang kajian rutin setiap hari kamis di masjid jogokariyan. Dan...kalian tahu temanya apa pada season tersebut? temanya tentang "TAKDIR". Aku yakin itu bukan sebuah kebetulan, tapi itu memang sudah skenarioNya. 

Aku menangis pada satu pertemuan (akupun kembali menangis mengingatnya sambil menulis ini) karena ustadzah Tika (seorang psikolog) menyampaikan "Allah tidak pernah dzolim pada hambaNya, tidak ada takdir buruk, yang ada hanyalah kita manusia yang melabeli takdir tersebut, semua ketetapanNya adalah bentuk cintaNya kepada hambaNya", selain itu ustadz Hammad juga menyampaikan bahwa "Ketika kita marah dan tidak terima atas ketetapanNya yang tidak kita sukai, tidakkah kita melihat ke belakang betapa banyak ketetapanNya yang menyenangkan hati kita?". 

Saat itu, hati aku bergetar, aku menangis, malu atas ketidaksyukuranku selama ini. Malu dan memohon ampun padaNya karena terlalu banyak berprasangka buruk padaNya dan mengeluh. Saat itu, rasanya Allah seperti sedang memelukku lembut, membimbingku dengan perlahan agar aku tidak terus menerus dalam kesesatan memandang setiap ketetapanNya. 

Aku sulit menggambarkannya, tapi hatiku pada saat itu terasa lebih ringan, seakan ada banyak beban yang telah diangkat. Tidak hanya soal penerimaan atas kegagalan tidak lolos sekolah profesi di Jakarta, tapi juga penerimaan yang lebih lapang atas kehilangan Umi, atas status diri yang masih sendiri dan takdir-takdir lainnya yang sulit sekali aku terima selama lima tahun terakhir. Aku bisa katakan, itu sebagai skenario terindah di tahun 2025. 

Setelah momen tersebut, hati terasa lebih ringan saat berikhtiar karena aku meletakkan urusanku juga kepadaNya. Aku juga lebih mensyukuri hari-hari yang bisa aku jalani, orang-orang disekitarku yang memberikan kasih sayang, i'm more present than before. 

Dan hari ini, akupun ingin menunjukan bahwa yang tertakdir untukmu adalah yang terbaik untukmu. 

Aku ditolak untuk ke-2 kalinya mendaftar program profesi dietisien di institusi di jogja. Sebagai manusia aku tetap menangis mengekspresikan kesedihanku tapi aku nggak menyerah. Aku mendaftar lagi sekolah profesi dietisien di UNDIP yang qadarullah berita PMB-nya sampai padaku. Capek? capek sekali rasanya belajar tidak henti-henti, tidak tahu ujungnya bagaimana, tapi lagi-lagi tugasku adalah berikhtiar seoptimal, semaksimal mungkin, aku percayakan hasilnya pada Nya. 

And see...ternyata memang ini takdir terbaik bagiku. Profesi di UNDIP, bertemu teman-teman di sini, praktik di Temanggung dan bertemu orang-orang baik di sana yang memberikan hikmah kehidupan, diajar oleh dosen-dosen kelas internasional. 

Allah knows whats best for us, and our task is give Him our best ikhtiar and du'a. 

Ini baru soal setahun terakhir, kalau aku tarik lebih jauh di lima tahu terakhir, aku selalu nangis betapa Allah tidak meninggalkanku. 

Mulai dari ujian hidup di tahun 2021 yang membuatku hampir cuti kuliah padahal skripsi sudah selesai dan tinggal laporan praktik. Lalu disaat aku mulai bangkit mengejar kembali cita-cita lanjut studi S2 di LN dengan kursus bahasa di luar kota saat itu Allah panggil umi. Lalu aku mengupayakan untuk cari kerja di dekat rumah agar bisa tetap menyediakan masakan sehat di rumah dan menganggur 2 tahun. Sejujurnya aku sering tertawa dan senyum getir ketika menyebutkan aku adalah "Kakak Rumah Tangga", aku iri melihat teman-temanku aktif kontribusi di masyarakat, bekerja, lanjut kuliah, menikah dsb.

Ya, itu yang aku alami dulu, hari ini, aku mensyukuri kehidupanku, orang-orang disekitarku, meskipun banyak harapan atau keinginanku belum terkabul, aku percaya bahwa ini adalah bentuk cintaNya padaku. Dan yang paling aku syukuri, Alhamdulillah Allah selalu membimbingku di fase-fase yang tidak nyaman, alhamdulillah aku tidak pernah dibiarkan olehNya menyentuh atau melakukan sesuatu yang haram sebagai bentuk copying mechanism, dan itu juga hal yang paling aku syukuri. 

Teruntuk teman-teman yang membaca ini, aku berbagi ini karena ingin menyampaikan betapa Rabb kita sayang sama kita, kegagalan, penolakan adalah bentuk perlindunganNya. Kita tidak harus selalu tahu arti dari ketetapanNya hari ini, tapi tugas kita adalah mensyukuri setiap ketetapanNya. Hidup ini memang penuh ketidaknyamanan karena bagian dari ujian. Kualitas dirimu tidak ditentukan dari penolakan atau kegagalan atau hal-hal yang kamu alami dan tidak nyaman, tapi kualitas dirimu ditentukan dari responmu tehadap setiap ketetapanNya. Semoga kamu selalu dalam perlindunganNya dan semoga cintamu padaNya kian tumbuh rimbun. 

Barakallahu fiikum, semoga bermanfaat...

Comments

Popular Posts